Sunday, September 30, 2018

Hiburan sexy video

Hiburan sexy video

Kenikmatan Sex Antar Tetangga



Aku dan suami sudah pindah kerumah kami sendiri. Kami baru pindah ke sebuah kompleks perumahan yang masih sangat baru.

Belum banyak penghuni yang menempatinya, malahan di gang rumahku (yang terdiri dari 12 rumah) baru 2 rumah yang ditempati, yaitu rumahku dan rumah Pras. Rumah Pras hanya berjarak 2 rumah dari rumahku. Karena tidak ada tetangga yang lain, Pras jadi cepat sekali akrab dengan suamiku.

Aku dan Winda, istri Pras jadi seperti sahabat lama, kebetulan kami seumuran. Hampir tiap hari kami saling curhat tentang apa saja, termasuk soal seks. Biasa kami berbincang di teras depan rumah Winda kalau sore sambil Winda menyuapi Aria, anak mereka. Aku kurang “happy” soal urusan ranjang ini dengan suamiku. Bukannya suamiku ada kelainan, tapi dia senangnya tembak langsung tanpa pemanasan dahulu, sangat konservatif tanpa variasi dan sangat egois. Begitu sudah ngecret ya sudah, dia tidak peduli dengan aku lagi. Sehingga aku sangat jarang mencapai kepuasan dengan suamiku. Sebaliknya Winda bercerita kalau dia sangat “happy” dengan kehidupan seksnya. Pras hampir selalu bisa memberikan kepuasan kepada istrinya. Kami saling berbagi cerita dan kadang sangat mendetail malah. Sering aku secara terbuka menyatakan iri pada Winda dan hanya ditanggapi dengan tawa terkekeh2 oleh Winda.

Jum’at petang itu kebetulan aku sendirian di rumah. Terdengar ketukan di pintu sambil memanggil2 nama suamiku.Aku membukakan pintu. “Eh .. Mas. Masuk Mas,” sapaku ramah. Aku baru selesai mandi sehingga tanpa make up dengan rambut yang masih basah tergerai sebahu. Aku mengenakan daster batik mini warna hijau tua dengan belahan dada rendah, tanpa lengan yang memeperlihatkan pundak dan lengan yang putih dan sangat mulus. “Nnng … suamimu mana Sin?” “Wah ke luar kota Mas.” “Tumben Sin dia tugas luar kota. Kapan pulang?” “Iya Mas, kebetulan ada acara promosi, jadi dia harus ikut, sampai Minggu baru pulang.

BACA JUGA : Hiburan Sexy Girl

Mas Pras ada perlu ama suamiku?” “Enggak kok, cuman pengin ngajak catur aja. Lagi kesepian nih, Winda ama Aria nginep dirumah ibunya.” “Wah kalo cuman main catur ama Sintia aja Mas.” “Emang Sintia bisa catur?” “Eit jangan menghina Mas, biar Sintia cewek belum tentu kalah lho ama Mas.” kata ku sambil tersenyum. “Ya bolehlah, aku pengin menjajal Sintia,” katanya dengan nada agak nakal.Aku hanya tersenyum menjawab godaanku. Aku membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan dia duduk di kursi tamu. “Sebentar ya Mas, Sintia ambil minuman. Mas susun dulu caturnya.”

Aku melenggang ke ruang tengah. Pas aku melangkah sambil membawa baki yang berisi 2 cangkir teh dan sepiring kacang goreng kegemarannya dan suamiku kalau lagi main catur, dia sedang menyusun biji2 catur dipapannya. Aku membungkuk meletakkan baki di meja, mau tak mau belahan dada dasterku terbuka dan menyingkap dua bukit toketku yang putih dan sangat padat. Aku tidak memakai bra. Kemudian aku duduk di kursi sofa di seberang meja. “Siapa jalan duluan Mas?” “Sintia kan putih, ya jalan duluan dong,” jawabnya. Beberapa saat kami mulai asik menggerakkan buah catur. Aku membuktikan bahwa aku cukup menguasai permaian ini. Beberapa kali langkah ku membuat dia harus berpikir keras. Tapi aku pun kerepotan dengan langkahnya.

Beberapa kali aku harus memutar otak. Kadang2 aku membungkuk di atas meja yang rendah itu dengan kedua tanganku bertumpu di pinggir meja. Posisi ini tentu saja membuat belahan dasterku terbuka lebar dan kedua toketku yang aduhai itu menjadi santapan empuk kedua matanya. Satu dua kali dalam posisi seperti itu aku mengerling kepadanya dan memergoki dia sedang menikmati toketku. Aku membiarkan matanya menjelajahi toketku sehingga aku sama sekali tidak mencoba menutup daster dengan tanganku. “Cckk cckk cckk Sintia memang hebat, aku ngaku kalah deh.” “Ah dasar Mas aja yang ngalah dan nggak serius mainnya. Konsentrasi dong Mas,” jawab ku sambil tersenyum menggoda. “Ayo main lagi, Sintia belum puas nih.” kataku rada genit.

Kami main lagi, permainan berjalan lebih seru, sehingga suatu saat ketika sedang berpikir, tanpa sengaja tanganku menjatuhkan biji catur yang sudah “mati” ke lantai. Dengan mata masih menatap papan catur aku mencoba mengambil biji catur tsb dari lantai dengan tangan kananku. Rupanya dia juga melakukan hal yang sama, sehingga tanpa sengaja tangan kami saling bersenggolan di lantai. Entah siapa yang memulainya, tapi kami saling meremas lembut jari tangan di sisi meja sambil masih duduk di kursi masing2. Aku melihat ke arah nya. dia masih dalam posisi duduk membungkuk . Jari tangan kirinya masih terus meremas jari tangan kananku.

Dia menjulurkan kepalaku dan mencium dahi ku dengan sangat mesra. Aku sedikit terperanjat dengan langkahnya, tapi hanya sepersekian detik saja. Aku melenguh pelan, “oooohhh …”Dia tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia mengkulum lembut bibir ku sambil tangan kanannya melingkar di belakang leherku. Aku menyambutnya dengan mengulum balik bibirnya. Kami saling berciuman dengan posisi duduk berseberangan dibatasi oleh meja. Kuluman bibirnya ke bibirku berubah menjadi lumatan. Bibirku disedot pelan, dan lidahnya mulai menyeberang ke mulutku. Aku pun menyambutnya dengan permainan lidahku.

BACA JUGA : DI PERKOSA KEPONAKAN SENDIRI

Merasa tidak nyaman dalam posisi ini, dia lepaskan ciumannya. Dia bangkit berdiri, berjalan mengitari meja dan duduk di sisi kiri ku. Belum sedetik dia duduk aku sudah memeluknya dan bibirnya kembali melumat kedua bibirku. Lidahnya terus menjelajah seluruh isi mulutku sepanjang yang bisa dia lakukan. Aku pun tak mau kalah bereaksi. Harus aku akui bahwa aku belum pernah berciuman begini hot, bahkan dengan suamiku sekalipun. Dia menciumi sisi kiri leher ku yang putih jenjang. Rintih kegelian yang keluar dari mulut ku dan bau sabun yang harum semakin memompa semangatnya. Ciumannyabergeser ke belakang telinga ku, sambil sesekali menggigit lembut cupingnya. Aku semakin menggelinjang penuh kegelian bercampur kenikmatan. “Aaahhhh … aaaahhhhh,” aku merintih pelan. Dia merangkul leherku dengan lengan kanannya.

Tangan kanannya mulai menelusup di balik dasterku dan merayap pelan menuju puncak toket ku yang sebelah kanan. Toketku memang sangat padat. Bentuknya sempurna, ukurannya cukup besar karena tangannya tak mampu mengangkup seluruhnya. Jari2nya mulai menari di sekitar pentil ku yang sudah tegak menantang. Dengan ibu jari dan telunjuknya dia memelintir lembut pentilku yang mungil itu. Aku kembali menggelinjang kegelian. Aku menolehkan wajah ke kiri dengan mata yang masih terpejam. Dia melumat bibirku. Kami kembali berciuman dengan panasnya sambil tangannya terus bergerilya di toket kananku. Ciumannya semakin ganas dan sesekali menggigit lembut bibirku.

Tangan kirinya digerakkan ke paha kiri ku yang mulus. Lambat namun pasti, usapan tangan diarahkannya semakin keatas mendekati pangkal pahaku. Ketika jarinya mulai menyentuh cd ku di sekitar no nokku, dia menghentikan gerakanku. Tangan kirinya kembali diturunkan, dia mengusap lembut pahaku mulai dari atas lutut. Gerakan ini diulang beberapa kali sambil tangan kanannya masih memelintir pentil kanan ku dan mulut kami masih saling berpagutan.

Ciumannya semakin mengganas. Dia pun mulai meraba no nokku yang masih terbalut cd itu. no nokku berdenyut lembut . Dengan jari tengah tangan kirinya, dia menekan pelan tepat di tengah no nokku. Denyutan itu semakin terasa. “Aaahh … Mas… aahhh .. iya .. iya,” aku melenguh sambil sedikit meronta dan kedua tanganku menyingkap daster miniku serta menurunkan cdku sampai ke lutut. Serta merta matanya bisa menatap leluasa no nokku. Bukitnya menyembul indah, jembutku cukup lebat. Di antara kedua gundukan no nokku itu terlihat celah sempit yang kentara sekali berwarna merah kecoklatan.

Kemudian jari2 tangan kirinya mulai membelai semak2 yang terasa sangat lembut itu. Aku bereaksi terhadap belaiannya dengan menciumi leher dan telinga kanannya. Aku semakin erat memeluknya. Tangan kanannya dari tadi tak berhenti meremas2 toket ku yang sangat berisi itu. Jari2nya mulai mengusap lembut no nokku yang sangat halus itu. Perlahan dia menyisipkan jari tengah kirinya di celah no nokku. Aku rasakan sedikit lembab dan agak berlendir. Dia menyusup lebih dalam lagi sampai dia menemukan it ilku yang sangat mungil . Dengan gerakan memutar lembut dia mengusap it ilku. “Ahhhh … iya … Mas .. ahhhh .. ahhhh.” Jari tengahnya ditekan sedikit lebih kuat ke it ilku, sambil digosokkan naik turun. Aku meresponsnya dengan membuka lebar kedua pahaku, namun gerakanku terhalang cd yang masih bertengger di kedua lututku.

win11
Sejenak ia menghentikan gosokan jarinya, dia menggunakan tangan kirinya untuk menurunkan cdku. Aku membantu dengan mengangkat kaki kiriku hingga cdku terlepas dan hanya menggantung di lutut kanan ku. Gerakan ku sudah tak terhalang lagi. Dengan leluasa aku membuka lebar kedua pahaku. Jarinya sekarang leluasa menjelajah seluruh no nokku yang sudah sangat licin berlendir itu. Dia menggosok2 it il ku dengan lebih kuat sambil sesekali mengusap ujung no nokku dan digesek keatas kearah it ilku. Aku menggelinjang semakin hebat. “Aaaaaahhhhh …. Mas .. Mas ….. ahhhhh .. terus … ahhhhh,” pintaku sambil merintih. Intensitas gosokannya semakin dia tingkatkan. Dia mulai mengorek bagian luar lubang no nokku. “Iya … ahhh … iya .. Mas …”

Aku hanya tergolek bersandar di sofa yang empuk itu. Kepalaku terdongak kebelakang, mataku tertutup rapat. Mulutku terbuka lebar sambil tak henti mengeluarkan erangan penuh kenikmatan. Tanganku terkulai lemas tak lagi memeluknya. Tangan kanannya pun sudah berhenti bekerja karena merangkul aku dengan erat agar aku tidak melorot ke bawah. Daster ku sudah terbuka sampai keperut, menyingkap kulit yang sangat putih mulus tak bercacat. Cdku masih menggantung di lutut kananku. Pahaku mengangkang maksimal. Jarinya masih menari-nari di seluruh bagian luar no nokku.

Dia sengaja belum menyentuh bagian dalam no nokku. Aku sekarang menggeleng2 kepala ke kiri kanan dengan liar. Rambut basahku yang sudah mulai kering tergerai acak2an. “Mas … Mas …. ahhhhh …. enak …. ahhhh nggak tahaaann .. ahhhh.” Aku sudah hampir mencapai puncak kenikmatan birahiku. Dengan lembut dia mulai menusukkan jari tengahnya ke dalam no nokku yang sudah sangat basah itu. Dia menyorongkan sampai seluruh jarinya tertelan no nokku yang cukup sempit itu. Dia tarik perlahan sambil sedikit dibengkokkan keatas sehingga ujung jarinya menggesek lembut dinding atas no nokku. Gerakan ini dilakukannya berulang kali, masuk lurus keluar bengkok, masuk lurus keluar bengkok, begitu seterusnya. Tak sampai 10 kali gerakan ini, tubuhku menjadi kaku, kedua tanganku mencengkeram erat pinggiran sofa. Kepalaku semakin mendongak kebelakang. Mulutku terbuka lebar. Gerakannya dipercepat dan ditekan lebih dalam lagi. “Aaaaaahhhhhhhhhh.”

Aku melenguh dalam satu tarikan nafas yang panjang. Tubuhku sedikit menggigil. Aku bisa merasakan jari tangannya makin terjepit kontraksi otot no nokku, dan bersamaan dengan itu cairan no noktku menyiram jarinya. Aku telah nyampe. Dia tidak menghentikan gerakan jarinya, hanya sedikit mengurangi kecepatannya. Tubuh ku masih menggigil dan menegang. Mulutku terbuka tapi tak ada suara yang keluar sepatahpun, hanya hembusan nafas kuat dan pendek2 yang keluar lewat mulutku. Kondisi demikian berlangsung selama beberapa saat. Kemudian tubuh ku berangsur melemas, dia pun memperlambat gerakan jarinya sampai akhirnya dengan sangat perlahan dia cabut dari no nokku.

Mata ku masih terpejam rapat, bibirku masih sedikit ternganga. dengan lembut dan pelan dia mendekatkan bibirnya ke mulut ku. Dia mencium mesra bibirku yang sensual itu. Akupun menyambut dengan tak kalah mesranya. Kami berciuman bak sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. Agak berbeda dengan ciuman yang menggelora seperti sebelumnya. “Nikmat Sin?” dengan lembut dia berbisik di telinga ku. “Mas … ah … Sintia belum pernah merasakan kenikmatan seperti tadi ..sungguh Mas. Mas sangat pinter … Makasih Mas … Winda sungguh beruntung punya suami Mas.” “Aku yang beruntung Sin, bisa memberi kepuasan kepada wanita secantik dan semulus kamu.” “Ah Mas bisa aja … Sintia jadi malu.”

BACA JUGA : Memek ku Di Emut

Akhirnya aku sadar akan kondisiku saat itu. Dasterku awut2an, pahaku masih terbuka lebar, dan cdku tersangkut di lututku. Aku segera duduk tegak, menurunkan dasterku sehingga menutup pangkal pahaku. Akhirnya aku bangkit berdiri. “Sintia mau cuci dulu Mas.” “Aku ikut dong Sin, ntar aku cuciin,” dia menggodaku. “Ihhh Mas genit.” Sambil berkata demikian aku menggamit tangannya dan menariknya ke kamarku. Sampai di kamarku dia berkata: “Aku copot pakaianku dulu ya Sin, biar nggak basah.” Aku tidak berkata apa2 tetapi mendekatinya dan membantu melepas kancing celananya semantara dia melepaskan kaosnya.

Dia kemudian melepaskan juga celananya dan hanya memakai cd saja. Aku melirik ke arah cdnya. Tampaknya kon tolnya yang besar dan panjang (dibandingkan dengan kon tol suamiku yang kecil) sudah menegang. Dia maju selangkah dan mengangkat ujung bawah dasterku sampai keatas dan aku mengangkat kedua tangannya sehingga dasternya mudah terlepas. Dia tampak mengagumi tubuhku. Toket yang dari tadi hanya diraba sekarang terpampang dengan jelas di hadapannya. Bentuknya bundar kencang, cukup besar, tapi masih proporsional dengan ukuran tubuh ku yang sexy itu. Pentilku sangat kecil bila dibanding ukuran bukit toketku. Warna pentilku coklat agak tua, sungguh kontras dengan warna kulit ku yang begitu putih.

Perut ku sungguh kecil dan rata, tak tampak sedikitpun timbunan lemak disana. Pinggulku sungguh indah dan pantatku sangat sexy, padat dan sangat mulus. Pahaku sangat mulus dan padat, betisku tidak terlampau besar dan pergelangan kakiku sangat kecil. “Mas curang … Sintia udah telanjang tapi Mas belum buka cdnya.” Tanpa menunggu reaksinya, aku maju selangkah, agak membungkuk dan memelorotkan cdnya. Dia membantu dengan melangkah keluar dari cdnya. kon tolnya yang sedari tadi sudah berdiri tegak langsung menyentak. Besar dan panjang, mengangguk2 saking kerasnya. Kami berdua berdiri berhadapan sambil bertelanjang bulat saling memandangi. Tak tahan melihat tubuh molek ku, dia maju langung memeluk tubuhku erat. Kulit tubuhku langsung bersentuhan dengan kulit tubuh nya tanpa sehelai benangpun yang menghalangi. “Kamu cantik dan seksi sekali Sin.” “Ah Mas ngeledek aja.” “Bener kok Sin.”

Sambil berkata demikian dia merangkul aku lalu masuk ke kamar mandi. Dia menyemprotkan sedikit air dengan shower ke no nokku yang masih berlendir itu. Kemudian dia memeluk ku dari belakang dan menyabuni seluruh permukaan no nokku dengan lembut. Aku suka dengan apa yang dia lakukan, aku merapatkan punggungku ke tubuhnya sehingga kon tolnya menempel rapat ke pantatku. Dengan gerakan lambat dan teratur dia menggosok selangkangan ku dengan sabun. Aku mengimbanginya dengan mengggerakkan pinggulku seirama dengan gerakannya. Akhirnya selesai juga dia membantu ku mencuci selangkanganku dan mengeringkan diri dengan handuk. Sambil saling rangkul kami kembali ke kamar dan berbaring bersisian di tempat tidur. Kami saling berpelukan dan berciuman penuh kemesraan. Dia meraba seluruh permukaan tubuh mulus ku, aku pun beraksi mengelus kon tolnya yang semakin menegang itu. Aku

ditelentangkan, kemudian dia melorot mendekati kakiku. Dia mulai menciumi betisku, perlahan keatas ke pahalu yang mulus. Akhirnya mulutnya mulai mendekati pangkal pahaku. “Ahhhhh Mas …. ah .. jangan .. nanti Sintia nggak tahan lagi .. ah.” Sekalipun aku berkata “jangan” namun justru aku membuka kedua pahaku semakin lebar seakan menyambut baik serangan mulutnya itu. “Nikmati saja Sin …. aku akan memberikan apa yang tidak pernah diberikan suamimu padamu.” Dia meneruskan jilatan dan ciumannya ke daerah selangkangan ku yang sudah menganga lebar. Bibir no nokku yang begitu tebal dan sensual. Perlahan dia mengkatupkan kedua bibirnya ke bibir no nokku. Sambil “berciuman” dia menjulurkan lidahnya mengorek ujung no nokku. “Ahhhh …. Mas … aaaaahhh .. please .. please.” Begitu mudahnya kata2ku berubah dari “jangan” menjadi “please”. Bibirnya digeser sedikit keatas sehingga menyentuh it ilku yang berwarna pink. Perlahan dia menjulurkan lidahnya dan menjilatinya berkali2.

Aku membuka selangkanganku semakin lebar dan menekuk lututku serta mengangkat pantatku. Dia segera memegang pantatku sambil meremasnya. Lidahnya semakin leluasa menari di it il ku. “Aaaaaahhhhhh …. enak Mas …. enak …. ahhhh .. iya …. ahhhh.” Hanya itu yang keluar dari mulut ku menggambarkan apa yang sedang kurasakan saat ini. Dia semakin meningkatkan kegiatan mulutnya, dia mengkatupkan kedua bibirnya ke it il ku yang begitu mungil, dia menyedot lambat2 benda sebesar kacang hijau itu. “Maaaaasss …. nggak tahaaaan … ahhhhh .. Maassss.” Dia melepaskan tangan kanannya dari pantat ku, kemudian jari tengahnya kembali beraksi menggosok it ilku. Lidahnya dijulurkan mengorek seluruh lubang no nokku sejauh yang dia bisa. Tubuhku menegang sehingga pantat dan selangkanganku semakin terangkat, kedua tanganku mencengkeram kain sprei. “AAAaaaaahhhhh … maaaaassssssss.”

Bersamaan dengan erangan ku dia merasakan ada cairan hangat dan agak asin yang keluar dari no nokku dan langsung membasahi lidahnya. Dia menjulurkan lidahnya semakin dalam dan semakin banyak cairan yang bisa dia rasakan. Aku memberontak, segera menarik dia mendekatiku. Tangan kanannya kupegang dan sentuhkan ke no nokku. Sambil terpejam, aku memeluknya dan langsung mencium bibirnya yang masih belepotan dengan lendir kenikmatanku. Dia biarkan bibir dan lidahku menari di mulutnya menyapu semua sisa lendir yang ada disana. Jari tangannya terbenam kedalam no nokku dan digerakkan masuk keluar dengan cepat. Tubuh ku kembali menggigil dan no nokku mengeluarkan cairan lagi. Rupanya itu adalah sisa orgasmeku.

Kami masih berciuman sampai tubuh ku mulai melemas. perlahan dia mengangkat tangan kanannya dari selangkanganku, memeluk ku dengan lembut. Bibirnya perlahan dilepaskan dari cengkeraman mulut ku. Tubuh ku tergolek lemah seakan tanpa tulang. Mataku sedikit terbuka menatapnya mesra. Di bibirku sedikit menyungging senyum penuh kepuasan. “Mas …. itu tadi luar biasa Mas … Sintia belum pernah digituin … Mas hebat .. makasih Mas … Sintia hutang banyak ama Mas.” “Sin aku juga sangat senang kok bisa membuat Sintia puas seperti itu” sambil dia mengkecup lembut keningku. Mata ku berbinar penuh rasa terima kasih. Kami berbaring telentang bersebelahan untuk beberapa saat. kon tolnya masih tegang berdiri. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Kali ini aku membersihkan diriku sendiri. Dia tetap berbaring sambil mengenangkan keindahan yang baru aku alami. Tak berapa lama kemudian aku kembali dan langsung berbaring di sampingnya. Mataku menatap lekat ke kon tolnya.

“Mas pengin diapain?” tanyaku manja. “Terserah kamu Sin, biasanya ama suamimu gimana dong?” dia coba memancingku. “Biasa ya langsung dimasukin aja Mas. Sintia jarang puas ama dia.” “Oh … terus Sintia penginnya gimana?” “Ya kayak ama Mas tadi, Sintia puas banget. … Sintia pengin cium punya Mas boleh nggak?” “Emang Sintia belum pernah?” “Belum Mas,” agak jengah aku menjawab, “Suamiku nggak pernah mau.” “Ya silahkan kalau Sintia mau.” Tanpa menunggu komando aku segera merangkak mengarahkan kepalaku mendekati selangkangannya. Aku pegang kon tolnya, kuamati dari dekat sambil sedikit melakukan gerakan mengocok.

Sangat kaku dan canggung, maklum baru pertama melakukannya. “Ayo Sin ,, aku ngak apa2 kok. Kalau Sintia suka, lakuin apa yang Sintia mau.” Dengan penuh keraguan aku mendekatkan mulutnya ke kepala kon tolnya. Pelan2 kubuka bibirku dan memasukkan kepalanya kedalam mulutku. Hanya sampai sebatas leher kemudian kusedot perlahan. Aku tetap melakukan itu untuk beberapa saat tanpa perubahan. Dengan lembut dia memegang tangan kiriku. Dia menggenggam jemariku yang lentik dan ditariknya mendekat ke mulutnya. Dia memegang telunjukku kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Dia menggerakkan masuk keluar dengan lambat sambil sesekali dijilat dengan lidahnya saat jari lentikku masih dalam mulutnya. Aku segera paham bahwa dia sedang memberi “bimbingan” bagaimana seharusnya yang kulakukan.

Tanpa ragu aku mempraktekkan apa yang dia lakukan dengan jariku. kon tolnya kumasukkan kedalam mulutku, kemudian kepala kuangguk2kan sehingga kon tolnya tergesek keluar masuk mulutku yang sensual itu. Sekalipun masih agak canggung tapi dia mulai bisa merasakan “pelayanan” yang kuberikan. Semakin lama aku semakin tenang dan tidak kaku lagi. Kadang kumainkan lidahku di sekeliling kepala kon tolnya dalam mulutku. Sepertinya aku sendiri mulai bisa merasakan sensasi dari apa yang kulakukan dengan mulut dan lidahku. Aku mulai berani bereksperiman. Kadang kukeluarkan kon tolnya dari mulutku, menciumi batangnya kemudian memasukkannya kembali. Sesekali aku hanya menghisap kepalanya sambil mengocok batangnya. “Gimana Sin rasanya?” “Mas… Sintia merasakan rangsangan yang luar biasa, kon tolnya Mas enak .. Sintia suka, besar – panjang lagi.” Dia bangkit berdiri di atas kasur sambil bersandar di dinding kepala ranjang. Aku langsung tahu harus bagaimana.


Aku duduk bersimpuh dihadapannya dan kembali menghisap kon tolnya. Kepala tetap kugerakkan maju mundur. Dan sekarang aku menemukan cara baru. Aku menjepit batang kon tolnya diantara kedua bibirku yang terkatup. Kemudian aku mengangguk2kan kepalaku. Batang dan kepala kon tolnya aku gesek dengan bibir tebalku yang terkatup. Dia membantu dengan menggerakkan pantatnya maju mundur. “Ohhh Sin …. mulutmu enak sekali … terus Sin.” “Mas suka? Winda sering ya giniin Mas ?” “Iya Sin …tapi aku lebih suka kamu … bibirmu seksi sekali .. ooohhh Sin .. Winda juga suka .. isep bijiku dan jilati semuanya Sin .. ohhh.” Aku nggak mau kalah, segera kulepaskan kon tolnya dari mulutku dan mulai menjilati dan menghisap bijinya sambil mengocok kon tolnya. Dia membelai rambut ku dan mengusap kepalaku. Aku suka sekali dan masih terus menggerayangi seluruh selangkangannya dengan lidahku.

Kemudian kami berganti posisi. Dia kembali tidur telentang dan aku dimintanya merangkak diatasnya dengan posisi kepala terbalik. Kami di posisi 69. Aku segera mengulum kon tolnya, dia pun mulai menjilati no nokku. Dengan posisi ini no nokkusangat terbuka dihadapannya dan dia lebih leluasa menikmati dengan bibir dan lidahnya. Dia menjilat dan hisap it il ku yang sudah menantang dan jarinya mengorek no nokku. Sesekali dia menciumi bibir no nokku yang begitu merangsang. Akupun tak mau kalah, aku melakukan segala cara yang aku tahu terhadap kon tolnya. Aku mainkan pakai lidah, kukocok sambil kuhisap, kumainkan kepala kon tolnya- mengitari dengan kedua bibirku. Sungguh nikmat sekali. Tak terlalu lama aku mulai merasakan bahwa aku sudah tidak bisa menahan lagi. Pantatku mulai bergoyang limbung kegelian, namun dia menjilati terus it ilku sambil jarinya menusuk2 no nokku. Akhirnya aku sampai juga di puncak nikmatku. Tubuhku menegang, gerakan anggukan kepalaku sambil menghisap kon tolnya semakin menggila. Tubuhku gemetaran tapi aku tetap tak rela melepas kon tolnya dari mulutku. Dia semakin giat mencium it ilku dan mengorek no nokku dengan jarinya.

Tubuhku tiba2 mematung dan dia merasakan cairan hangat meleleh keluar dari no nokku. Dia langsung menutup no nokku dengan mulutnya dan membiarkan cairan kenikmatanku membasahi lidahnya. Rasanya asin tapi sama sekali tidak amis sehingga dia tak ragu menelan cairan itu sampai tandas. Kemudian perlahan dia mulai lagi menciumi dan menjilati seluruh permukaan no nokku. Otot ku sudah agak mengendur juga. Aku mulai lagi melakukan segala eksperimen dengan mulut dan lidahku ke kon tolnya. Kami mulai lagi dari awal. Perlahan namun pasti, aku mulai mendaki lagi puncak kenikmatan birahiku. Dia menangkupkan kedua tangannya ke bukit pantat ku dan mulai membelai dan meremas lembut. Aku menanggapinya dengan sedotan panjang di kon tolnya. Lidahnya kembali menelusuri segala penjuru selangkangan ku. Beberapa saat kemudian tubuh ku kembali gemetaran. Dia mencium bibir no nokku dan menyorongkan lidahnya sedalam mungkin ke dalam no nokku yang merangsang. Dia juga mulai merasa kalau pertahanannya mulai goyah dan bendungannya akan segera ambrol.

Aku mempercepat gerakan kepalaku dan diapun menghisap makin kuat no nokku. Dia akhirnya sudah tak kuat menahan amarah pejunya dan …”Croooottsss crooots croots.” Peju hangatnya menyembur didalam mulut ku. Untuk sedetik aku agak kaget tapi aku cepat tanggap. Aku segera mempercepat gerakan kepalaku sambil menelan seluruh pejunya. “Croots .. croots.” Sisa pejunya kembali menyembur, dan kali ini aku menyambutnya dengan hisapan kuat di kon tolnya, seakan ingin menyedot apa yang masih tersisa didalam sana. Dia merasakan nikmat yang luar biasa. Ekspresi kenikmatan ini dia lampiaskan dengan semakin gila menjilati dan menyedot no nokku sehingga aku juga sudah hampir mencapai klimaks. Belaian lidahnya di no nokku membuat puncak itu semakin cepat tercapai. Akhirnya sekali lagi tubuh ku menegang dan cairan hangat kembali meleleh dari no nokku. Lidahnya kembali menerima siraman lendir kenikmatan itu yang segera ditelannya.

Beberapa saat kemudian, dengan enggan aku bangkit dan berbaring telentang disampingnya. kon tolnya, walaupun masih berdiri, tapi sudah tidak setegak tadi. Aku memeluknya dengan manja dan kami berciuman dengan mesra. “Sin … gimana? .. puas? … sorry tadi aku nggak tahan keluar di mulut kamu.” “Sintia puas sekali Mas .. sampai dua kali gitu lho …. Sintia suka peju Mas … asin2 gimana gitu. Kapan2 boleh minta lagi dong Mas.” Aku mulai berani mengungkapkan apa yang kurasakan. “Boleh aja Sin ,,, asal disisain buat Winda .. hehehe,” Aku mencubit genit lengannya. “Ihhh … Mas … paling bisa deh … emang Mas sering gaya gituan dengan Winda?” “Enggak lah … ini baru pertama dengan kamu Sin.” “Ah Mas bohong ..

Winda kan sering cerita ke Sintia, katanya Mas pinter ngeseks. Makanya diam2 Sintia pengin main ama Mas.” “Udah kesampian kan keinginanmu Sin.” “Iya sih … tapi Mas jangan marah ya … Sintia sering bayangin kita main bertiga dengan Winda .. Mas mau nggak?” Dia kaget mendengar keinginan ku ini. Jujur saja aku sering berfantasi membayangkan alangkah nikmatnya bercinta dengan dia dan Winda sekaligus. “Mau sih Sin .. tapi kan nggak mungkin … Winda pasti marah besar.” “Iya ya … Winda kan orangnya agak alim.” Kami terus berbincang hal2 demikian sampai kira2 10 menit. Kemudian dengan malas kami ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di kamar mandi kami saling menyabuni dan saling membersihkan tubuh kami. Dia jadi semakin mengagumi tubuh ku. Tak ada segumpal lemakpun di tubuhku dan semuanya padat berisi.

Setelah mengeringkan diri kami kembali ke atas ranjang dan berpelukan mesra. Sambil saling berciuman dia mulai menggerayangi tubuh molek ku, tak bosan2nya dia meremas dan mengusap toketku yang sangat segar itu. Perlahan dia mulai menghujani leher dan pundak ku dengan ciuman. Tak sampai disitu saja, mulutnya mulai mengarah ke dadaku. Toketku yang tegak mulai diciumi dan digigit2 lembut. Aku sangat menyukai apa yang dia lakukan. “Ahhhh … iya Mas …. disitu Mas … ahhhhh Sintia terangsang Mas.” Lidahnya menjilati pentilku yang mungil dan keras itu. Aku semakin menggelinjang.

Tanganku menyusup ke bawah ke selangkangannya. Kupegang kon tolnya yang masih agak lemas. Kumainkan kon tolnya dengan jari2ku yang lentik. Mau tak mau kon tolnya mulai hidup kembali. Aku dengan lembut mengocok kon tolnya. Sambil masih mengulum pentilku, tangan kanannya kembali bergerilya di daerah no nokku. Jarinya dirapatkan dan ditekan ke bukit no nokku sembari digerakkan memutar. Aku juga menimpali dengan menggoyangkan pantatku dengan gerakan memutar yang seirama. “Mas …. aaahhhh Mas …. enak Mas … ahhh terus … iya.” Sambil mendesah aku menarik pantatnya mendekat ke kepalaku. Akhirnya dia terpaksa melepaskan hisapannya di pentilku dan duduk berlutut di sisiku.

Aku terus menekan pantatnya sampai akhirnya mulutku mencapai kon tolnya yang sudah tegak menantang. Tangan kirinya ditempatkan dibelakang kepalaku untuk menyangga kepalaku yang agak terangkat. kon tolnya kembali kukulum dan kujilati. “Oooh Sin … enak Sin … aku suka Sin …” Diapun menggerakkan pantatnya maju mundur. Aku membuka lebar mulutku dan menjulurkan lidahku sehingga kon tolnya meluncur masuk keluar mulutku tergesek lidahku. Sementara itu tangan kanannya terus menekan dan memutari no nokku. Kadang jarinya diselipkan ke celah no nokku dan mengusap it il ku. “Ahhh Mas … Sintia nggak tahan Mas … ahhhhh .. iya …aaahhhh.”

Dia segera merubah posisi. Kedua tangan ku diletakkan di belakang lututku dan membuka kedua lututku.Dia mengangkat pahaku sehingga no nokku menganga menghadap ke atas. Aku menahan dengan kedua tangan di belakang lututku. Dia duduk bersimpuh di hadapan no nokku. kon tolnya diarahkannya ke no nokku yang sudah menganga itu. Dia menusukan kepala kon tolnya ke no nokku dan dia tahan disana. Kemudian dengan tangan kanannya digerakkannya kon tolnya memutari mulut no nokku. “Maassss .. ahhhhh … nggak tahan … ayo … ahhhhhh.” Dia sengaja tidak mau terlalu cepat menusukkan kon tolnya ke no nokku. Dia menggesek2an kepala kon tolnya ke it il ku. Aku semakin menggelinjang menahan nikmat. Akhirnya tanggul ku bobol juga. Tak heran, dengan gosokan jari saja aku tadi bisa mencapai orgasme apalagi ini dengan kepala kon tolnya, tentu rangsangannya lebih dahsyat. “Aaaahhhhhhhhhhhhhh..ahhhhhhhhhhhhh Massssssss.” Rintihan itu sekaligus menandai melelehnya cairan bening dari no nokku. Aku kembali mengalami puncak orgasme hanya dengan gosokan di it ilku.

Kali ini dia memasukkan batang kon tolnya seluruhnya kedalam no nokku. Dia berbaring telungkup diatas tubuh molek ku sambil menumpukan berat badannya di kedua sikunya. Dia mencium lembut mulutku yang masih terbuka sedikit. Aku membalas ciumannya dan mengulum bibirnya. Dia membiarkan kon tolnya terbenam dalam no nokku. Dia berbisik : “Sin … nikmat ya …” “Oh Mas … Sintia sampai nggak tahan … nikmat Mas ..” Perlahan dengan gerakan yang sangat lembut dia mulai memompa batang kon tolnya ke dalam no nokku yang sudah basah kuyup. Dia tahu aku pasti bisa orgasme lagi dan kali ini dia ingin merasakan semburan lumpur panas di batang kon tolnya. “Ayo Sin ….nikmati lagi … jangan ditahan .. aku akan pelan2.”

“Ahhhh .. iya Mas …. Sintia pengin lagi ..ahhhhh.” Masih dengan sangat pelan dia memompa terus kon tolnya ke no nokku yang ternyata masih sempit untuk ukuran wanita yang sudah menikah 2 tahun. Toketku yang menyembul tegak menggesek2 dadanya ketika dia turun naik. Sungguh sensasi yang luar biasa. Sengaja dia menggesekkan dadanya ke toketku. “Aaaahhhhh … ahhhhhhh … iya … ahhhhh .. Sintia terangsang lagi Mas …iya …. .” Kali ini dia memompa sedikit lebih kuat dan cepat. Aku menanggapinya dengan memutar pantatku sehingga kon tolnya rasanya seperti di peras2 dalam no nokku.

Gerakkan ku semakin liar, tanganku sudah tidak lagi menahan lututku tapi memegang pantatnya dan menekannya dengan keras ke tubuhku. “Aaaaahhhhhh …. Mas ….. aaaahhhhhhh” Dia semakin kencang dan dalam memompa pantatnya. Mata ku sudah terpejam rapat, kepalaku menggeleng2 liar ke kiri ke kanan seperti yang kulakukan di sofa tadi. Gerakanku semakin ganas dan “Aaaaaaaaa.hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ………” Aku melenguh panjang sambil menegangkan seluruh otot di tubuhku. Dia menekan dalam2 kon tolnya ke no nokku. Jelas dia merasakan aliran hangat di sekujur batang kon tolnya. Tubuh ku masih terbujur kaku. Dia pun menghentikan seluruh gerakannya sambil terus menekan no nokku dengan kon tolnya. Beberapa saat sepertinya waktu terhenti. Tidak ada suara, tidak ada gerakan dari kami berdua. Dia memberi kesempatan kepada ku untuk menikmati klimaks yang barusan aku dapat.

Akhirnya badan ku mulai mengendur. Tanganku membelai lembut kapalanya. Bibirku mencari bibirnya untuk dihadiahi ciuman yang sangat lembut dan panjang. “Mas …. Sintia sungguh nikmat …. Mas jago deh … Mas belum keluar ya?” “Jangan pikirkan aku Sin …. yang penting Sintia bisa menikmati kepuasan.” Kemudian dengan lambat dia mulai memompa lagi. no nokku menjadi sangat licin. Selama beberapa saat dia terus memompa lambat2. “Aaaahhhhhh … iya .. iya …. Mas …. Sintia mau lagi .. iya … ahhhh”. Aku kembali memutar pantatku mengiringi irama pompaannya. Aku mulai mendesah2 penuh kenikmatan. Dia mencabut kon tolnya dari no nokku. Dia lalu berbaring telentang di sebelahku. “Kamu diatas Sin.” Aku segera berjongkok diatas selangkangannya. Dia mengarahkan kepala kon tolnya ke no nokku. Aku kemudian duduk diatas tubuhnya dan bertumpu pada kedua lututku. Pantatku mulai bergerak maju mundur. “Ayo Sin … kamu sekarang yang atur .. ohhh iya nikmat Sin.” Aku semakin bersemangat memajumundurkan pantatku.

Kedua toketku berguncang indah dihadapannya. Secara reflek kedua tangannya meremas toketku. Tangan kuletakkan dibelakang pantatku sehingga tubuhku agak meliuk kebelakang membuat dadaku semakin membusung. “Ohhh Sin … toketmu sexy sekali … terus Sin … ohhhh … lebih keras Sin.” “Aaaaahhhh Mas … Sintia sudah mau sampai lagi … ahhhhh ahhhhhh Mas” “Ayo Sin …. terus Sin … cepat …. ohhhhh iya .. iya Sin … no nokmu enak sekali.” “Mas .. ahhhh … Sintia nggak tahan … puasi Sintia lagi mas .. ahhhh.” Gerakan pantat ku semakin cepat dan semakin cepat. Dia merasa kon tolnya tergesek2 dinding no nokku yang sempit dan licin itu. Dengan sekuat tenaga dia mencoba menahan agar dia tidak ngecret tapi pertahanannya semakin rapuh. “Sin … oooohhhh Sin …. aku nggak tahan … ohhh Sin …. enak ..enak.” “Ahhhh … ayo .. Mas …..

Sintia juga udah nggak tahan … sekarang mas ..ahhh sekarang.” Tepat pada detik itu bendungannya ambrol tak mampu menahan terjangan pejunya yang menyemprot kuat. “Oooooooohhhhhhh Sin ….. crooots crooots croots” “Aaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh Mas …. ahhhhhhhhhhh ..” Kami mencapai puncak kenikmatan bersama. kon tolnya terasa hangat dino nokku. Aku masih duduk diatasnya tapi sudah kaku tak bergerak. no nok kuhunjamkan dalam melahap seluruh batang kon tolnya. “Oooohhh Sin …. nikmat sekali .. makasih Sin .. kamu pinter membuat aku puas.” Dia menggapai tubuh ku dan ditarik menelungkup diatas tubuhnya. Toketku yang masih keras menghimpit dadanya. Dia menciumi seluruh wajahku yang ditetesi keringat. “Mas … ahhhhh … Sintia sungguh puas Mas … ” Kemudian kami berbaring sambil berpelukan. Badan kami mulai terasa penat tapi bathin kami sangat puas.

Hari sudah beranjak malam. “Mas Sintia laper”. “Ya udah, kita mandi dulu, terus baru cari makan malem”. Dikamar mandi, kita saling menyabuni. kon tolnya ngaceng lagi, kukocok2 kon tolnya pelan2. “Mas kon tolnya besar banget sih”. Aku mulai berani bicara vulgar kepadanya, sudah tidak sungkan lagi. Selesai mandi, aku memakai kaos oblong merah dengan celana gombrang khaki.

Kemudian aku pergi dengannya ke warung didepan komplex untuk cari makan malam. Selesai makan malam, kita kembali kerumah lagi. Aku memutar film biru yang baru dipinjam suamiku. Suamiku memang hobi nonton film begituan. Dengan 2 bantal besar diatas karpet tebal kami berdua duduk berdampingan sambil nonton film. Permainan panas di film itu membuat aku mulai bergerak menempel kebadannya dan kemudian rebah diatas pahanya. Dia mengulum bibirku dengan lembut sambil tangannya mulai bergerak dengan sentuhan halus ke toketku yang tanpa bra itu. Aku menggelinjang saat dia mulai agresif memainkan pentilku.

“Ayo mas..gesek lagi ya..!” pintaku bernafsu. Aku mencium dan menjilati jari-jarinya. Kemudian dia melepaskan tangannya dari ciumanku dan kembali meremas toketku dari balik kaosku. Dipilinnya pentilku secara bergantian. Aku makin menggeliat karena napsuku sudah memuncak. Tangannya kutarik menjauh dari toketku. Kubawa ke arah perutku. Segera dia mengilik2 puserku sampai aku menggeliat kegelian, “Mas geli”. Tangannya segera menyusup ke bawah dan menemukan karet celana gombrongku. Tangannya berusaha merayap terus ke bawah menyelip kedalam cdku sampai menyentuh jembutku. Jangkauannya kini maksimal, padahal target belum tercapai.

Aku menaikkan badanku sedikit dan kini jari-jarinya bisa mencapai belahan no nokku. no nokku sudah basah, sehingga jari tengahnya dengan mudah menyusup ke dalam dan menemukan it ilku yang sudah mengeras. Dia lalu memainkan jari tengahnya. Pinggulku mengikuti irama sentuhan jari tengahnya. Aku menggelinjang. “Mas, lepasin pakean Sintia, mas, semuanya”, pintaku. Segera dia mengangkat kaosku keatas, aku mengangkat tanganku keatas untuk mempermudah dia membuka kaosku. Kemudian dia menarik celana gombrangku bersama cdku, aku mengangkat pantatku untuk mempermudah dia melepasnya. Setelah aku berbugil ria, segera diapun melepas semua yang menempel dibadannya.

Kon tol besarnya sudah tegak dengan kerasnya. Dia berbaring dengan 2 bantal susun dipunggungnya. Aku menunduk mengulum kepala kon tolnya. Hanya sebentar karena dia menyuruhku menduduki kon tolnya dengan posisi membelakangi dia. Aku mulai bergerak pelan memaju-mundur pantatku untuk menggesekkan no nokku ke kon tolnya. Tangannya dari belakang mulai beraksi memijit-mijit toketku.

Aku menjadi sangat liar, menggeliat sambil tak henti-hentinya mendesah kenikmatan. Gerakan dan sentakanku makin cepat dan keras sampai suatu saat kuundurkan pantatku agak kebelakang dan kon tolnya lepas dari jepitan bibir no nokku. kon tolnya yang agak terangkat sudah berhadapan dengan bibir no nokku yang basah itu dan….bleeessss..kepala dan separuh kon tolnya yang tegang keras itu amblas kedalam no nokku. “Maas”, seruku. “Kenapa Sin, sakit”, tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepala, bukannya sakit tapi nikmat banget. Sesek rasanya no nokku kemasukan kon tolnya yang besar banget itu. no nokku berdenyut mencengkeram kon tolnya, giliran dia yang mendesis, “Sin, nikmat banget no nokmu, bisa ngemut kon tolku”. Dia membalikkan badanku dan sehingga aku terlentang diatas karpet. Dia menundukkan mukanya dan mengulum bibirku sambil menggeser badannya keatas.

Dengan pelan ditusukkannya kon tolnya keno nokku. Diteruskannya dorongannya dan kepala kon tolnya mulai memaksa menerobos masuk keliang no nokku. “Ouuhh..” kembali aku melenguh. Dikocoknya kon tolnya pelan sehingga kian dalam memasuki no nokku. Pelan tapi pasti dan akhirnya kurasakan seluruh no nokku penuh terisi kon tolnya. no nokku yang sudah basah itu masih terasa sempit buatnya, “Sin, sudah basah gini masih sempit aja no nokmu, nikmat banget deh, mana terasa banget empotannya. Terus diempot ya Sin”.

Dihunjamkannya lagi kon tolnya, walau terasa sangat sesak tapi nikmat, “Ooohhh…” aku mulai menggeliat, kaki kuangkat, melingkar kepahanya sementara kepalaku terangkat, mendongak kebelakang dengan mataku membelalak. Tangannya bereaksi cepat, toketku diremas pelan sembari pentilnya dipijit, membuat aku makin menggila, berdesah panjang kenikmatan, “uhhh, peluk Sintia mas”. Dirapatkannya badannya kebadanku dan aku merangkul ketat punggungnya. Goyangan pantatnya turun naik makin cepat sehingga bersuara “plook..ploook” karena begitu banyak cairan yang mengalir dari no nokku.

Dia kemudian mengganti posisi. Aku disuruh nungging pada sandaran sofa dengan posisi pantat sedikit terangkat, kaki mengangkang. Digesekkannya kepala kon tolnya ke bibir no noknya beberapa saat, baru dihunjamkannya pelan. Doggy Style ! “Maas”, erangku ketika kepala kon tolnya mulai menekan dan menerobos masuk ke liang no nokku. Baru setengah kon tolnya masuk, “Aaauuhhh….” mataku terbelalak saking nikmatnya.

Kemudian dia mulai mengocok kon tolnya keluar masuk no nokku. Aku kembali mengelinjang, menahan enjotan pantatnya. Terasa kon tolnya makin keras dan kepalanya makin membesar karena gesekan di dinding no nokku. “Ooohhh..oooohhhh” gumamku, karena dia mempercepat enjotannya. Tiba-tiba dia menahan gerakan pantatnya, ditariknya keluar sehingga hanya sebagian kon tolnya yang masih terbenam lalu disentakkannya cepat dengan gerakan pendek, kemudian ditekannya rapat kepantatku hingga semua kon tolnya tertanam dalam no nokku, lalu dibuatnya gerakan memutar.

Otomatis kepala kon tolnya berputar bak bor mengesek ketat dinding no nokku. “Uuaahhh….terus mas…enaaakkk!” desahku. Tidak puas hanya menikmati putaran “bor” nya, aku ikut mengenjot keras pantatku ke belakang dan… “uuhhh..uuuhhh” kami berdua sama-sama mengerang nikmat. Selang lebih dari 20 menit kami berpacu dengan posisi demikian, aku makin keblingsatan dengan erangan-erangan tak keruan. Dia tahu kalau aku sudah akan nyampe.

Aku ditelantangkan diatas sofa dengan kaki kiri menjuntai lantai dan kaki kanan bergantung pada sandaran sofa. Paha ku terbuka lebar dan bibir no nok ku sedikit membuka setelah disodok kon tolnya sejak tadi. Kini dia mulai membungkuk diatas badanku dan dengan tangan kiri menopang badannya, tangan kanannya menuntun kon tolnya kearah bibir no nokku.

“Ayo..masukin mas..!” pintaku. Kepala kon tolnya mulai menghunjam. “Aaahhhh..!” erangku saat seluruh kon tolnya disodok masuk dan mulai dikocok turun naik langsung dengan frekuensi tinggi dan cepat. “Ah..ah..ah..ah.” aku tiada hentinya melenguh, badanku menggeliat dengan kepala sebentar naik sebentar turun menahan geli dan nikmat yang amat sangat.

Dia terus mengocok dengan kecepatan tinggi dan menggila. Kenikmatanku sudah memuncak. “Auuuh..m..m..” tanganku melingkar ketat dipunggungnya dengan paha dan kakiku ikut membelitnya. “Tahan dikit Sin..!” bisiknya dikupingku sambil mempercepat sodokannya. “Aaaahhhhhhh..!” aku menjerit panjang, kukuku serasa menembus kulit punggungnya, mengiringi puncak kenikmatanku. Berbarengan dengan lenguhan panjang, dia menyodok keras kon tolnya ke no nokku diimbangi dengan goyangan kencang pantatku yang berusaha mengapung keatas, .

Otot-otot bibir no nokku serasa berdenyut-denyut seperti meremas-remas kon tolnya. Crreeeettt…pejunya ngecret didalem no nokku, hangat, membuat aku merem melek sejenak. Kami berdua sama-sama nyampe. “Oh Sin, puas sekali ngen tot denganmu..!” desahnya. Kami masih berpelukan sebentar dengan kon tolnya masih terbenam di no nokku, berciuman

Hiburan Sexy Girl

Hiburan Sexy Girl



Saturday, September 29, 2018

DI PERKOSA KEPONAKAN SENDIRI



Tante Betsy, wanita setengah baya yang masih lumayan seksi. Sudah dari waktu yang lama ia menjadi sasaran untuk “digoyang” oleh keponakannya sendiri, Budi. Budi yang berasal dari Bandung, sudah hampir lima tahun tinggal dirumah tante Betsy, karena ia kuliah di Jakarta. Dan sudah lima tahun itu juga tante Betsy menjadi fantasi seks-nya dikala ia bermasturbasi. Seringkali ia mengambil pakaian dalam tante Betsy dari bak pakaian kotor yang terletak di dalam kamar mandi. Bh dan korset tante Betsy merupakan primadona Budi dalam bermasturbasi.

Setiap kali bermasturbasi ia selalu menumpahkan airmaninya dicelana dalam maupun bh tante Betsy. Bahkan tidak jarang ia mengambil celana korset tante Betsy yang sudah dicuci bersih, dan dengan sengaja memuntahkan spermanya di bagian selangkangan celana dalam tersebut, ataupun berkali-kali berejakulasi di cup bh tante Betsy hingga berhari-hari, kemudian ‘benda-benda tersebut’ dikembalikannya ketempat semula. Dan berharap tante Betsy segera memakai bhnya tersebut.

BACA JUGA : Kakak Pacarku

Tidak jarang juga Budi mencoba mengintip tante Betsy pada waktu tidak ada orang dirumah tersebut. Melalui lubang kunci pintu kamar tante Betsy, Budi sering kali melihat tubuh montok tante Betsy tanpa busana, ataupun hanya dibalut pakaian dalamnya saja.

Dan biasanya aksi pengintipan tersebut diakhiri dengan beronani memakai pakaian dalam tante Betsy dikamarnya. Budi sering kali mengumpulkan airmaninya ketika selesai beronani didalam cangkir kecil, dan disimpannya didalam kulkas kecil yang ada dikamarnya. Ketika cangkir tersebut sudah hampir penuh, ketika tidak ada orang yang melihat, ia mencampurkan ‘airmani basi’ tersebut kedalam soup atau pun minuman yang biasa disediakan untuk tante Betsy.

Bahkan pernah juga ia mencampurkan spermanya sebanyak dua sendok makan kedalam hamburger yang disediakan untuk tante Betsy. Dan secara diam-diam Budi menyaksikan tante Betsy menikmati santapannya plus airmani miliknya didalam makanan tersebut. Dan biasanya libido Budi langsung tinggi, dan cepat-cepat ia beronani dikamarnya.

Makin lama Budi makin tidak tahan setiap kali melihat tubuh tante Betsy yang masih sintal itu, maka timbullah niat jahatnya untuk memperkosa tante Betsy. Berhari-hari ia merencanakan hal tersebut, dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya.

Obat bius pun sudah dipesannya dari seorang teman yang entah dapat dari mana. Maka pada malam hari itu ia mengajak teman-temannya untuk mengerjai tante Betsy disalah satu rumah temannya yang sedang kosong.

Teman-teman Budi yang memang rata-rata maniac seks pun ikut bergairah mendengar rencana tersebut. Maka terkumpullah teman-teman Budi sebanyak dua puluh lima orang. Dua puluh orang menunggu dirumah kosong, lima orang lagi bertugas menculik tante Betsy, termasuk Budi. Maka pada hari itu mereka seharian mengikuti kemanapun tante Betsy pergi, hingga pada malam hari kesempatan itu datang juga. 

Ketika tante Betsy sedang menunggu lift diparkiran basement salah satu restaurant, Empat orang teman Budi pun ikut mengantri lift dengan tante Betsy. Ketika tante Betsy lengah, salah seorang langsung mengeluarkan saputangan yang sudah ditetesi kloroform cukup banyak, dan dengan cepat dibekapkan kehidung dan mulut tante Betsy, yang seketika itu juga langsung pingsan, dan keempat teman Budi langsung membopong tante Betsy masuk kedalam minibus yang sudah menunggu didepan lift tersebut. 

Hampir satu jam mereka baru sampai kerumah kosong tersebut, dan langsung memasukkan mobil kedalm garasi. Tante Betsy pun langsung digotong-gotong beramai-ramai kedalam ruang tamu. Dalam keadaan masih tidak sadar, tante Betsy didudukkan dikursi sofa. Dan tanpa komano lagi mereka bergantian meraba-raba serta meremas-remas tubuh tante Betsy. Pakaian tante Betsy yang berupa baju terusan hingga sebatas mata kaki pun dilucuti dengan tidak sabar, hingga akhirnya tinggal bra dan celana dalam saja yang menempel ditubuhnya.

Gunung kembar tante Betsy merupakan menu utama untuk ‘diobok-obok’ oleh Budi dan teman-temannya. Beberapa tangan dengan brutalnya bergantian berada dibalik bh tante Betsy yang berupa long torso tersebut. Cup bh yang berukuran 36B itu pun akhirnya dibetot kebawah hingga gunung kembar yang masih sintal itu tersembul keluar. Beberapa orang langsung bergantian mengisap-isap kedua putting susu tante Betsy, sambil sesekali meremas-remas ‘kontainer susu’ tante Betsy tersebut. Salah seorang teman Budi menggunting bagian selangkangan celana dalam tante Betsy, dan dengan sangat bernapsu tante Betsy dipindahkan ke matras dan langsung saja diantri beramai-ramai.


Budi mendapat giliran pertama menyetubuhi tante Betsy, sedangkan yang lain sambil menunggu giliran memain-mainkan batang penisnya diwajah tante Betsy yang masih terlihat cantik itu. Mulut tante Betsy dibuka paksa dan dua batang penis sekaligus masuk dan berusaha bergerak keluar masuk sebisa-bisanya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasanya bagi pelakunya. Satu batang penis panjang dan besar milik Heri melintang dari atas dahi hingga diatas hidung tante Betsy, dan Heri pun dengan semangat 45 menggosok-gosokkan batang penisnya maju mundur dengan cepat.

Vagina tante Betsy yang masih lumayan ‘kenceng’ itu pun nonstop digunakan untuk memuaskan napsu Budi dan teman-temannya. Setengah botol baby oil sudah habis digunakan sebagai pelicin batang penis Budi dan teman-temannya. Batang Penis Budi dengan lancarnya keluar masuk vagina tante Betsy, membuat teman-teman yang lain menjadi tak sabar menunggu giliran. Tante Betsy yang tak sadarkan diri itu sudah hampir dua jam dikerjain para sex maniac tersebut dengan berbagai aktivitas sex yang aneh-aneh. Berbagai pose bugil tante Betsy diabadikan oleh Bambang dengan digital camera serta handycam, mulai dari oral sex hingga persetubuhan massal. 

Hingga akhirnya adegan climak berejakulasi pun siap diabadikan. Budi mangambil kacamata baca dari tas tante Betsy, kemudian memakaikan kaca mata tesebut diwajah tante Betsy yang cantik itu. Dan keduapuluh enam orang tersebut mulai bergantian berejakulasi diwajah tante Betsy. Dimulai dengan giliran pertama oleh Budi ‘sang pencinta tante Betsy’. Budi dengan cepat mengeluar-masukkan batang penisnya dimulut tante Betsy yang seksi itu hingga akhirnya saat berejakulasi ia mengocokkan penisnya tesebut tepat diatas wajah tante Betsy dan airmanipun muncrat berantakan diseluruh wajah tante Betsy berupa garis-garis lurus putih kental hingga mengenai kacamata tante Betsy. 

Heri, Hendra, Feri dan Faisal berlutut diatas wajah tante Betsy dari empat penjuru dan tisak sampai semenit airmani mulai bermuncratan secara bergantian membasahi wajah dan leher tante Betsy dengan begitu derasnya. Lima orang teman Budi yaitu Tumpal, Ade, Erik, Udin dan Ucok memilih berjakulasi dimulut tante Betsy, dan merekapun tidak sampai lima menit lima menit sudah memindahkan isi kantung buah sakar mereka kemulut tante Betsy, hingga luber hampir keluar dari mulut seksi tersebut. 

Udin pun menggerak-gerakkan mulut dan wajah tante Betsy hingga sedikit demi sedikit ‘air peju’ tersebut tertelan oleh tante Betsy. Sedangkan yang lainnya melakukan hal yang pada tante Betsy. Beberapa orang bergantian menjepitkan batang penisnya diantara kedua gunung kembar tante Betsy yang montok itu. Beberapa tetes baby oil diteteskan didada tante Betsy sebagai pelicin, yang membuat para lelaki tersebut mundur maja tak karuan, sementara penis mereka dengan lancarnya ikut bergerak mundur maju pula disela-sela gunung kembar tante Betsy yang sedang diremas-remas, dan akhirnya hanya beberapa menit saja batang kejantanan mereka berjantian muncrat diantara gunung kembar tante Betsy hingga bertetesan membasahi bh yang masih membalut tubuh tante Betsy itu. 

Sementara itu yang lainnya bergantian berejakulasi diwajah dan mulut tante Betsy yang dibuka paksa dengan sebuah alat pengganjal sehingga tidak dapat dikatupkan. Air mani bermuncratan diwajah tante Betsy dan sebagian lagi masuk kedalam mulutnya. Bahakan beberapa orang teman Budi, termasuk Budi berejakulasi hingga tiga kali diwajah tante yang cantik itu karena saking napsunya. 
Selesai pemerkosaan tersebut, tante Betsy yang masih belum sadarkan diri itu dibersihkan oleh beberapa orang. Muka tante Betsy yang blepotan sperma hanya diseka dengan celana dalam Budi yang kemudian disumpalkan kedalam mulut tante Betsy. Rambut tante Betsy yang berantakan disisir rapi kembali, dan kacamatanya yang kotor karena airmanipun dibersihkan dan dipakaikan kembali, hingga akhirnya tante Betsy bersih seperti sedia kala. 

Tante Betsypun akhirnya siuman sementara jam sudah menunjukkan pukul satu malam, dan betapa kagetnya ia ketika melihat dirinya hanya memakai bra dan celana dalam korsetnya yang sudah putus dibagian selangkangan dan lebih kaget lagi melihat Herman dengan ganasnya menyetubuhi tante Betsy sedari tadi. Batang penisnya keluar masuk dengan lancar sementara yang lainnya dengan wajah ditutup sarung kepala menonton sambil mengocok penis masing-masing. 

Budi dan teman-temannya terpaksa memakai sarung penutup kepala karena takut dirinya diketahui oleh tante Betsy. Sekali lagi mereka mengerjai tante Betsy sebelum subuh tiba. Batang penis satu persatu bergantian mengocok vagina tante Betsy, sementara itu seperti biasa yang lainnya merem melek memaksa tante Betsy mengisap serta mengulum penis mereka. Bahkan mereka bergantian memaksa tante Betsy mengulum-mgulum sepasang buah sakar mereka sambil menekan-nekan wajah tante Betsy diselangkangan mereka itu hingga akhirnya keduapuluh enam orang itu kembali berejakulasi bersama-sama. 

Satu persatu dari mereka kembali memuncratkan spermanya diwajah dan mulut tante Betsy. Salah seorang mengambil segelas airmani dingin dari kulkas dan memaksa siseksi tante Betsy untuk menelan air mani tersebut sambil mengunyah-nguyah airmani tersebut terlebih dahulu sampai habis. 

Airmani yang bertetesan diwajah tante Betsy disendoki dan dicekoki kemulut tante Betsy hingga bersih. Selesai ‘mandi peju’ tante Betsy kembali dirapihkan dan dipakaikan bajunya kembali, namun celana korset dan bh nya dicopot dari tubuhnya untuk kenang-kenangan buat mereka. Sebagai gantinya mereka memaksa tante Betsy memakai celana dalam G-String berwarna merah yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan gunung kembar tante Betsy dibiarkan bergelayutan tanpa bh, hingga putting susu tante Betsy mencuat kedepan. Tante Betsy diturunkan ditengah jalan dekat rumahnya, kemudian mereka pergi begitu saja.

Tetangga Yang Haus Di Ranjang

 


Kali ini aku akan menceritakan sebuah cerita nyata yang dialami oleh salah seorang temanku yang bernama Edo. Tanpa mengurangi isi dan misi dari ceritanya, izinkan aku menulis dan menceritakanya dengan bahasa serta gayaku sendiri. Tidak adan motif SARA apalagi agama, niat kami hanya berbagi dan semoga menjadi inspirasi, motivasi dan inovasi juragan sekalian.


Langsung aja Juragan, perkenalkan namaku Edo, umur 31 tahun, tinggi 170cm, berat 62kg, kulit putih, wajah manis dan berstatus sudah menikah, meskipun belum mempunyai anak. Aku dan isteriku (Lingga, 27tahun) sama-sama seorang guru PNS, bedanya dia mengajar di SD sedangkan aku mengajar di SMA. praktis secara ekonomi kami tidak kekurangan, terlebih isteriku adalah seorang anak tunggal yang masih mendapatkan jatah bulanan meskipun sudah bekerja sendiri dan bersuami. Kami tinggal di sebuah rumah yang cukup asri, penuh pepohonan besar dan berhalaman luas karena kebetulan aku memang menyukai alam dan taman. Bahkan beberapa kali aku sempat mengeksekusi isteriku di taman yang rapat (tidak terlihat dari luar) itu demi mendapatkan sensasi baru.

Kembali ke cerita, sesaat menjelang Lebaran hampir semua orang selalu memikirkan uang, uang dan uang karena memang kebutuhan bertambah serta harga yang naik. Tak sedikit dari mereka yang mengharap dan bertumpu pada uang THR yang biasanya dibagikan baik bagi pegawai negeri maupun swasta. Tak terkecuali bagi Mbak Bella (32tahun) yang merupakan salah satu tetangga terdekatku yang bersuamikan (Pak Imam, 40tahun) seorang pegawai tetap di sebuah pabrik gula. Namun yang terjadi tidak seperti yang dia harapkan, entah apa yang terjadi dengan pabrik gula tersebut yang ada uang THR yang diharapkan tidak kunjung tiba meskipun sudah H-3 menjelang lebaran. Tidak sampai disitu, bahkan gaji bulan terakhir Pak Imam juga baru dibayar separuh sehingga membuat Mbak Bella sering uring-uringan dan beradu mulut dengan suaminya. Untuk menambah pemasukan dimasa liburnya, akhirnya Pak Imam memilih untuk ikut-ikutan mengojek pada pemudik yang sudah mulai rame berdatangan.

Adalah kebaikan istriku yang menjadi awal dari kisahku ini, dengan alasan kasihan kepada anak semata wayangnya (Vina, 7tahun) maka diapun meminta ijin untuk membelikan baju lebaran berikut dengan uang sakunya. Bagiku itu tidak masalah, terlebih ada nasehat lama yang mengatakan jika kita banyak berbuat baik kepada anak-anak maka kami akan cepat diberikan momongan (anak). Atas dasar itulah tanpa sepengetahuan istriku aku memberikan uang tambahan kepada Vina, dari awalnya 200ribu menjadi 500ribu. Sore itu aku memberikan pakaian berikut uangnya langsung kepada Vina disaat dia melewati depan rumahku. mendapatkan baju dan uang dariku, Vina sangat senang hingga secara spontan memelukku dengan eratnya disertai ucapan terimakasih yang sangat tulus. Tak lupa aku mengirimkan SMS kepada Pak Imam agar tidak salah sangka atau berfikir aku merendahkanya.

Tepat saat menjelang magrib, HPku berbunyi tanpa henti namun tidak dapat kuteria karena aku sedang beribadah. Setelah magrib aku baru melihat HPku dan mendapati ada 16 panggilan tak terjawab dari Mbak Bella. Spontan akupun mengirimkan SMS yang apa adanya, intinya menjelaskan hadiahku kepada Vina tulus dan ikhlas sebagai pancingan agar aku cepat mendapatkan anak. Namun jawaban Mbak Bella sangat mengejutkan dan membuatku berpikir lama menyiapkan kata untuk membalasnya, maklum karena aku tidak pandai berbincang dengan wanita meskipun itu melalui SMS.

"terimakasih Dik Edo! Terus buat aku mana?" SMSnya Mbak Bella.

“mmm…kalau buat Mbak Bella itu kewajiban Pak Imam untuk menafkahi, takut jadi salah paham Mbak!" Balasku tanpa niat apapun.

"alaaah, gak usah mikirin Mas Imam Dik…dia gak mampu memberi nafkah lahir dan batin!" Balasnya.

“Ooo…ya udah Mbak, kalau memang Mbak Butuh besok aku kasih! Udah dulu Mbak, mau buka puasa!" Jawabku memutus SMSnya karena isteriku sudah memanggilku dari ruang makan.

Meski belum pernah selingkuh dan tidak pernah kepikiran untuk selingkuh, namun sebagai seorang lelaki yang penuh naluri aku cukup bisa membaca arti kata SMSnya terutama tentang nafkah batin. Beberapa saat kemudian saat hendak melakukan tarawih tanpa sengaja aku bertemu dengan Mbak Bella yang kebetulan sedang berbelanja di toko sebelah masjid. Wajahnya cukup ceria dan memberikan senyuman yang penuh arti sehingga tanpa sadar membuatku sejenak terpana akan kecantikanya. Tiga tahun bertetangga denganya aku melihatnya biasa saja, namun malam itu dia terlihat berbeda, lebih cantik dan menggugah kelelakian. Dengan tinggi hampir setara denganku (170an) bodi tubuhnya terlihat sangat ramping dan seksi terlebih saat itu dia memakai baju daster tipis yang sedikit kekecilan sehingga bentuk pantatnya yang aduhai dan toketnya yang membulat sempurna (35an) tampak semakin menonjol. Kulit putih mulusnya juga tampak berseri terbias cahaya lampu toko yang terang.

Baca juga: Ke Usilan Yang Berbuah Manis

"jangan lupa besok pagi yah??" Katanya lirih sambil berjalan melintasi aku.

GILA! masa minta THR maksa gitu??? Gumamku dalam hati sambil mengangguk mengiyakan maksudnya sekaligus agar tidak dicurigai orang-orang. Hingga menjelang masa sahur aku tidak bisa memejamkan mata, benakku dipenuhi oleh senyum dan bodinya hingga membuatku mendadak penuh gairah. Efeknya, aku langsung menghampiri Lingga yang sedang membuat lauk di ruang dapur untuk mengajaknya bercinta. Dari belakang aku langsung memeluk tubuh Lingga tepat di kedua toketnya, meremasnya dan memainkanya sesuka hatiku hingga membuatnya sangat terkejut.

"apaan sih Mas, nanti gosong lho… " katanya coba mengelak.

“ayolah Mah, udah sebulan nganggur…kangen nih!" Jawabku sambil terus merangsangnya.

Dengan segera aku melepaskan pengait sarungku sehingga langsung melorot dan memamerkan kontolku yang sudah teramat sangat menegang. sambil memeluk dan terus meremas aku menggesekan kontolku di pantat Lingga sehingga diapun terangsang dan langsung mematikan kompor serta berbalik badan membalas cumbuanku dengan lumatan bibir. Karena sama-sama merindukan ML dan terbatas waktu (Imsak) maka diapun segera berjongkok di depanku dan berkaraoke ria menyanyikan lagu ‘ooohhh…yeessss….oohh…nooooo layaknya film bokep barat. Sesaat kemudian Lingga berdiri dan membelakangiku sambil menyodorkan pantatnya yang menungging. BLESSSSSSSSS… meski awalnya cukup seret karena belum terlalu berlendir namun berkat kekerasan kontolku yang teraat sangat maka tusukanku berjalan sukses. Dengan semangat menggebu dan tempo yang cepat aku memaju mundurkan kontolku mengocok memeknya. Awh…aaahhh…aaahh…mmmm…racauan isteriku sangat kencang dan liar melebihi sebelumnya sejalan dengan irama kocokanku yang lebih kuat dari biasanya. Hanya dalam 15 menit akhirnya akupun berhasil menyemprotkan spermaku kedalam memeknya. CROOOOOOOTT..

“AAAAHHHH… sangat nikmat Mbak! Pekikku keceplosan.

"ngomong apa Pah??"Sergap isteriku menanyakan apa yang aku katakan.

“nikmat banget Mah! EMUAACH!" Jawabku sambil menciumnya menyembunyikan panik dan gugup.

#dumateng panjenengan ingkang badhe ninda’aken ibadah siyam kulo aturi enggal-enggal wungu amargi imsakipun kirang sedoso menit# dengan segera aku mengalihkanya dengan suara spiker masjid yang artinya ‘bagi anda yang akan menjalankan ibadah puasa, kami sarankan agar cepat-cepat makan sahur karena waktu imsak kurang dari sepuluh menit. Berkat itulah Lingga tidak lagi menanyakan apa kataku dan langsung berlari menuju kamar mandi untuk mandi junub bergantian denganku yang memilih makan duluan. Jujur aku terheran-heran dengan apa yang kurasakan, pikiranku dipenuhi tentang Mbak Bella begitu juga dengan mata dan hatiku, bahkan juga ucapanku yang tanpa sadar menyebut nama ‘Mbak. Karena kecapekan akupun tidur pulas dan baru terbangun saat jarum jam menunjuk angka 9 pagi.

Saat bangun aku melihat isteriku sudah tidak ada di sisihku, meninggalkan secarik kertas yang isinya dia pergi ke sekolah untuk mengurusi pengumpulan dan pembagian zakat serta dilanjutkan pergi untuk membeli jajanan dan kue untuk lebaran. Kulihat HPku ternyata ada 38 panggilan tak terjawab dari Mbak Bella serta 10 SMS yang isinya sama yakni ‘mana THR-ku? Buruan Dik keburu toko-tokonya tutup! Jujur aku tidak menyukai aksi ceplas-ceplosnya yang terkesan maksa, namun anehnya kontolku mendadak menegang begitu membaca SMSnya karena otakku langsung tertuju pada bentuk tubuhnya. Agar tidak semakin mengganggu dengan telpon dan SMSnya yang maksa maka akupun segera mandi dan berniat kerumahnya.

Dengan hanya berpakaian seadanya yakni celana pendek kolor dan kaos tipis akupun pergi kerumahnya melalui pintu samping. Diluar dugaan ternyata dia memang sudah menungguku dan langsung menyambutku dengan senyuman serta tawa kecilnya yang centil. Dag…dig…duugg… layaknya ABG yang akan menyatakan cintanya, jantungku berdegub tak karuan begitu juga dengan kaki dan tanganku yang sedikit gemetar serta terasa dingin di depanya. 

"wah…sudah siap rupanya?" Sapanya sambil menarik tanganku menuju sofa.

“siap gimana Mbak? Tanyaku bingung.

"udah jangan gugup begitu, tunggu sebentar ya?" Katanya sambil berlari kecil masuk kamar.

Jujur aku bingung dengan tingkah dan sikapnya, namun aku memilih diam dan fokus menahan diri agar pikiran mesumku tentang dirinya tidak mengambil alih imanku serta membangunkan imronku karena kebetulan aku tidak berCD. Namun semakin aku berusaha menahan dan menepikan otak mesumku yang terjadi justru sebaliknya yakni kontolku menegang hebat hingga membuat celana kolorku tampak penuh di bagian depan.

"sori Dik…lama menunggu yah?" Katanya membangunkan lamunanku.

"di tutup aja yah?" Tambahnya hendak menutup pintu samping.

“jangan di tutup Mbak, nanti malah menimbulkan fitnah!" Jawabku spontan.

"mmmm…iya juga sih, terserah kamu ajalah!" Jawabnya.

Dalam keadaan bingung akan sikapnya itu, tanpa aku duga dia langsung nyelonong duduk dipangkuanku sehingga membuat kontolku menempel di pangkal pahanya terlebih Mbak Bella sudah berganti dengan sebuah baju tidur yang mirip lingerie dengan renda memenuhi tepian serta kain yang sangat tipis dan halus hingga mataku bisa melihat toketnya yang tak berBH serta bulu jembutnya yang menghitam di selangkanganya. Ternyata Bella salah mengartikan SMS: alaaah, gak usah mikirin Mas Imam Dik…dia gak mampu memberi nafkah lahir dan batin! “Ooo…ya udah Mbak, kalau memang Mbak Butuh besok aku kasih! Dia berfikir aku akan memberikan nafkah lahir (THR) sekaligus batin (SEX) kepadanya. Agen Judi Bola

“aku…aku ikhlas memberikan uang ini Mbak!" Kataku gugup sambil menyodorkan amplop uang.

"sssssstttt…aku juga ikhlas Dik, katanya pengen anak??" Ayo kita buat sekarang! Katanya enteng.

“aku…aku takut…aku gak mau Mbak…" kataku gugup.

"udahlah jangan munafik, nih kontolmu gak bisa berbohong!" Jawabnya sambil menggenggam kontolku yang mengacung dibawah pahanya.

"ssssssttt…jangan takut, semua aman kok! Mas Imam ngojek dan Vina antar zakat ke sekolah… Lingga juga di sekolah kan??" Katanya tegas.

Kreeeeeeeeeekkkkkkk…dengan sekuat tenaga dia menarik paksa kaosku hingga membuatnya koyak dan memamerkan bulu dadaku yang tebal hingga menyambung ke jembut. Entah apa yang ada di pikiranya aku tidak tahu karena saat itu aku sendiri tidak tahu jalan pikiranku antara bernafsu melihat aksinya serta takut ketahuan, yang jelas aku menjadi pasrah dengan kemauanya. Tanpa basa-basi Mbak Bella menciumi leherku dengan buasnya sambil meraba-raba bulu dadaku naik turun hingga ke perut serta menerobos kolorku untuk mengelus jembut dan kontolku. hanya dalam hitungan detik aku bereaksi membalas ciumanya dengan remasan di kedua toketnya sambil mengelus putingnya yang nyembul di balik bajunya. Aaaaaaaaaaaahhhh…pengalaman pertama akan terasa istimewa dan terkenang selamanya setidaknya itu benar kurasakan. Jantungku berdebar hebat, begitu pula laju darahku yang seakan-akan mengalir deras membuat nafsuku semakin mengganas.

Tanpa sadar akupun bersikap aktif mengibangi keagresifan dan keliaranya dalam bercinta. Dengan tarikan kuat aku membalas merobek bajunya tepat dibagian toketnya dan menyambutnya dengan jilatan dan hisapan kuat bahkan juga gigitan hingga membuatnya menggelinjang hebat. Aaaaaaahhhh… desahnya begitu basah membisik telinga membangunkan bulu kudukku. Tanpa menghiraukan pintu samping yang masih menganga aku langsung menggendong Bella menuju ke ruang tamu dengan harapan bisa mengawasi keadaan luar sehingga akan lebih aman. 

"kamu hebat…aku yakin kamu sehat dan Lingga-lah yang mandul!" Bisiknya.

Tanpa menghiraukanya aku langsung menudukanya ke sofa dan menjongkokan diri di depan pahanya yang membuka lebar memamerkan jembutnya yang semrawut tidak beraturan menutupi memeknya. Meski jembutnya tebal dan panjang, namun dibalik itu semua tersimpan sebuah keindahan yang menjanjikan kenikmatan yakni memek merekah merah yang terlihat begitu legit. Sluuuuuurrrrpppp… dengan tanpa sungkan akupun mencicipi memeknya dengan hisapan dan juga jilatan lidah. Emuah…emuah… begitu juga ciumanku yang mendarat bertubi di kedua pangkal pahanya bergantian kiri dan kanan tanpa jijik. Dari bentuknya yang sempit aku menebak bahwa memeknya sudah lama tidak terpakai atau mungkin kontol Pak Imam yang kecil atau bisa juga dia memang pandai merawat memek.

"auwwhhh…mmmm… Nakal juga kamu, bisa bikin aku sampai begini!" Katanya mendesis.

"ayooo buruan, aku juga pengen ngenyot burungmu!" Tambahnya.

“mmm….mmmm…iya bentar Mbak, tanggung nih!" Jawabku sambil menusukan jari tengah ke memeknya.

Mendapat kocokan dan jilatan yang bersamaan membuat Mbak Bella menggeliat seperti cacing kepanasan. Kedua tanganya meremas toketnya sendiri sementara tubuhnya meliuk kesana kemari sambil merapatkan kedua kakinya menjepit kepalaku. Namun aku tidak peduli, justru gerakanya yang terkesan menahan geli membuatku semakin bersemangat merangsangnya. Aku menambahkan satu jari telunjuk menemani jari tengahku mengocok memeknya sambil tetap kujilati, sementara tangan kiriku mengelus lubang anusnya yang sudah dipenuhi oleh luberan lendir memeknya. Cret…creeeetttt… beberapa saat kemudian Mbak Bella mengerang hebat, tubuhnya mengejang diikuti oleh gerakan tanganya yang menjambak rambutku untuk menahan gerakan lidahku. Aaaaahhhh…lendir orgasme pertamanya tumpah ke sebagian bibirku dengan aroma khas sejuta kenikmatan.

“ayo…gentian Mbak!" Kataku sambil berdiri.

"aaaaaaaaaahhhh…bentar yah…aku…akuuu…" katanya terengah.

Tak sabar menunggunya akupun menyuapi mulutnya dengan kontolku, HLEEEEEEEBBBB… aaahhhh separuh kontolku masuk sempurna kedalam mulutnya dan langsung aku gerakan maju mundur teratur sambil memilin putingnya. Terus dan terus, aku mengocok mulutnya semakin dalam, semakin cepat dan semakin kuat hingga membuatnya melotot mencari nafas. Sesekali aku iseng memencet hidungnya agar tarikan nafasnya melalui mulut dari sela-sela kontolku. aaaaaaaaaahhhh…suara kecipak basah terdengar begitu jelas dari dalam mulutnya karena ludahnya mulai kental seperti lendir sehingga membuat kontolku semakin nyaman bergerak di dalam mulutnya menusuk tenggorokanya.

"huuukkkkk…uhuk…uhuukkk…mmmm udah…udaaahhh…ampuun…aku tidak bisa bernafas!" Katanya sambil menggeleng dan meludahkan liurnya yang kental.

BLEEEEEEEEEESSSSSSSSSSSSSSS… tanpa memberinya waktu beristirahat aku langsung membenamkan kontolku kedalam memeknya yang menganga akibat kedua pahanya yang kubuka. PLAK…PLAAAKKK… lendir memek dan lendir liurnya yang menempel di kontolku memperudah tusukan dan kocokan kontolku pada memeknya sehingga bisa langsung aku genjot sesuka hatiku. Terus…terus dan terus, tanpa ampun aku menghujam memeknya dengan kuat dan cepat. PLAKKKK…PLAAAAAAAAKKKK… buih busa putih langsung menempel di tepian memeknya melukis betapa cepat kocokanku di memeknya.

"auwhh…mmm…gila…enak bangeeettt!" Racaunya.

"mmm…ayo…ayoooo…ayoooo…buktikan kamu bisa membuahi aku!" Racaunya.

"Ayo…titipkan anakmu di janinku!" Katanya memberikan semangat.

Mbak Bella sangat pandai memberi semangat kepadaku, naluri bawah sadarku yang merasa sehat dan membuktikan diri bisa membuat anak menjadikan tenagaku yang terkuras menjadi kembali penuh, bahkan terasa semakin besar. Hingga hampir setengah jam aku memompa memek Mbak Bella dengan berbagai posisi sesuai keinginan hati. AAAAAAAAAAAAAAAAGGGHHHH… desah Mbak Bella semakin keras memenuhi ruang tamu. Sesaat aksiku sempat terganggu oleh kehadiran pegawai pengontrol meter listrik, beruntung kaca rumahnya cukup gelap sehingga aku tetap bisa mengocok memeknya meski dengan irama pelan sambil menahan rasa takut ketahuan. 

Di penghujung aksi Mbak Bella memilih WOT (women on the top) dan menggoyang kontolku dengan memutar pantatnya layaknya Inul Daratista yang sedang show goyang ngebor. Terus…terus dan terus, kocokanya Mbak Bella semakin cepat dan juga kuat hingga membuatku merem melek menahan nikmat. Beberapa menit kemudian akhirnya pertahananku jebol juga, dengan gaya cepat dan sesekali berhenti (patah-patah) Mbak Bella memaksa kontolku menyemburkan sperma kental kedalam memeknya. CROOOOOOOOOOOOOOTTTTTTT… AAAAAAAAGHHHHHHHHHH… aku mengejang hebat menahan sejuta nikmat yang menyengat, mataku memejam dan mulutku menggumam, begitu juga dengan kaki dan tanganku yang terasa kesemutan dan kram.

"aku puas banget Dik…aku sayang kamu!" katanya sambil menjatuhkan badan.

“aku juga sayang kamu Mbak, emuaaaaaaaaacch!" Jawabku sambil mencium keningnya.

Sejak saat itu aku resmi berselingkuh dengan Mbak Bella hingga kini dan di karuniai seorang anak lelaki yang secara fisik sangat menyerupai aku. Beruntung Lingga tidak mencurigai aku dan tetap bersikap seperti sebelumnya. Tiga bulan yang lalu Mbak Bella resmi menyandang status janda sehingga membuat hubunganku semakin mesra dan dekat. Semua semakin menjadi saat aku dan Lingga mengambil anak lelakinya Bella (anak biologisku) sebagai anak asuh, serta merta membuat Lingga dan Bella menjadi sangat dekat layaknya kakak beradik. Efeknya aku hidup layaknya seorang raja yang mempunyai seorang permaisuri dan selir, ngentot bergilir sesuka hati. MOHON DOA RESTU JURAGAN SEKALIAN, agar niatku menikahi Bella di izinkan oleh Lingga…bagiku tak mengapa jika isteri mudaku usianya lebih tua dari isteri tuaku!

Ngentot Anak SMA Aduhai, Gurih Gurih nyoiiiii

Cerita dewasa... Dibandingkan dengan teman lainya memang stefani adalah cewek yang sangat cantik sekali. Ini ceritaku, perkenalkan nam...